SEJARAH MUSEUM
Sejarah museum ini berkaitan erat dengan pembentukan Dinas Purbakala Seksi Bangunan di Desa Bedulu, Gianyar, pada tahun 1951 di bawah pimpinan J.C. Krijgman. Lokasi ini dipilih karena padatnya temuan peninggalan purbakala di wilayah tersebut. Ide untuk mendirikan museum secara resmi muncul pada tahun 1958-1959 atas prakarsa Dr. R.P. Soejono (Kepala Kantor Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Cabang II Gianyar) dengan tujuan untuk menyelamatkan, memamerkan, dan memberikan informasi mengenai benda cagar budaya hasil temuan lapangan di Bali.
Pada awal realisasinya, museum ini bermula dari beberapa bangunan beratap ijuk di halaman dalam yang digunakan untuk menyimpan benda hasil penyelamatan, termasuk sarkofagus. Pembangunan kemudian diteruskan di masa kepemimpinan Drs. M.M. Soekarto K. Atmojo dengan membangun tembok keliling, candi bentar, wantilan, serta empat buah gedung pameran tetap. Museum ini akhirnya diresmikan oleh Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tanggal 14 September 1974 dengan nama Museum Gedong Arca.
Lembaga pengelola museum ini mengalami beberapa kali transformasi nama, mulai dari Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) pada 1989, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) pada 2003, hingga Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) pada 2012. Terhitung mulai 1 November 2022, lembaga ini secara resmi menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV.
Antara tahun 2016 hingga 2018, melalui dana APBN, dilakukan rehabilitasi terhadap beberapa bangunan dan bale pelindung sarkofagus. Hasil renovasi tersebut kemudian diresmikan oleh Dirjen Kebudayaan Bapak Hilmar Farid pada 20 Maret 2019. Saat ini, museum terus berkembang sebagai destinasi wisata edukatif.
PENDIRI MUSEUM
Drs. M.M Soekarto K.Atmojo
Prof. Dr. R.P Soejono